QIN SHI HUANG DI

Qin Shi Huang Di mungkin adalah kaisar paling terkenal dalam
sepanjang sejarah kerajaan China. Ia adalah kaisar yang pertama kali
menggabungkan seluruh daratan China di bawah satu panji kerajaan. Ia
juga dikenal dalam legenda sebagai kaisar yang berusaha menemukan
ramuan yang dapat memberinya kehidupan kekal. Akan tetapi, seperti
yang kita semua tahu, akhirnya sama seperti orang lain, ia pun
meninggal dunia dan dikuburkan di daerah Xi’an, China.

Kematian adalah sesuatu yang pasti, yang tidak mungkin kita hindari.
Segala hal yang ada pada kita — kekayaan, status, dan popularitas —
pada akhirnya kelak akan kita tinggalkan. Seperti kata pemazmur,
tidak peduli seberapa pun kayanya kita semasa di dunia, akhirnya
seluruh harta itu akan kita tinggalkan begitu saja (ayat 11). Tidak
peduli seberapa besar rumah yang kita tinggali selama hidup, pada
akhirnya sebidang tanah tempat kita dikubur akan menjadi tempat
tinggal raga kita untuk selamanya (ayat 12). Tidak peduli seberapa
berkuasa dan mulianya kita, pada akhirnya seluruh kekuasaan dan
kejayaan tersebut akan dilepaskan untuk selamanya (ayat 18).

Lalu, apakah ini berarti kita seharusnya sudah cukup menjalani hidup
dengan serbamiskin dan tanpa ambisi? Tentu tidak! Melainkan,
didorong atas kesadaran akan kesementaraan hidup ini, kita harus
memakai harta dan status kita untuk hal-hal yang bersifat lebih
kekal, yaitu untuk hal-hal yang berkenan kepada Allah. Entah untuk
menolong orang lain yang membutuhkan; entah untuk memperbaiki
hal-hal buruk yang terjadi di sekitar kita

HIDUP DI DUNIA INI SEMENTARA, TetAPI BISA DIBUAT PENUH MAKNA
JIKA DIISI DENGAN HAL-HAL YANG BERKENAN KEPADA ALLAH

Mazmur 49:16-20

16. (49-17) Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila
kemuliaan keluarganya bertambah,
17. (49-18) sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya
serta, kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia.
18. (49-19) Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia pada masa
hidupnya, sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik
terhadap dirinya sendiri,
19. (49-20) namun ia akan sampai kepada angkatan nenek moyangnya, yang
tidak akan melihat terang untuk seterusnya.
20. (49-21) Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak
mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang
dibinasakan.

Pos ini dipublikasikan di Spiritual dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s