10 Aturan Bertengkar Sehat

Bagi sebagian orang, bertengkar secara bersahabat sungguh merupakan ide radikal. Artinya, ya tak perlu bertengkar. Saling menuduh, mengancam, menghina, dan memaki, baik diucapkan dengan suara tinggi maupun pelan tapi bernada mencemooh, akan sangat merusak hubungan.

Dan ingat, ucapan yang sudah dikeluarkan sering tak bisa ditarik kembali. Jadi, tak ada seorang pun perlu bersikap seperti monster atau mengancam. Kemarahan yang disampaikan dengan berteriak justru tak akan didengar pasangan. Dalam suasana yang panas, yang terjadi hampir selalu, pasangan pergi atau memberi kritik secara tak adil.

Di sisi lain, tak ada di dunia ini dua orang – tak peduli bagaimana perasaan mereka berdua – akan selalu setuju terhadap segala hal di setiap saat. Kalaupun ada, pasti akan membosankan, bukan?

Jadi, setiap pasangan selalu perlu menegosiasikan perbedaan. Mereka perlu memiliki ruang untuk saling mengkiritik yang membangun. Setiap pasangan memang perlu menyatakan pendapat dan boleh tak sepaham.

Dan mereka memang perlu memiliki cara untuk mengekspresikan perasaan yang kuat tentang hal yang tak didukung atau tak dimengerti pasangannya, tanpa perasaan akan dihakimi.

Hubungan Sehat
Hubungan yang sehat memang perlu penguasaan keterampilan “bertengkar secara bersahabat”, yaitu menghormati konflik yang dihadapi dan mengatasinya bersama-sama untuk menemukan solusi tepat.

Bertengkar secara bersahabat berarti mencari jalan keluar atas perbedaan yang jadi pokok masalah. Artinya, membicarakan dengan penuh semangat soal hal-hal yang dirasakan tanpa saling menyakiti.
Cara ini bisa membantu pasangan meredakan emosinya tanpa membuat suasana jadi kian memanas. Bertengkar secara bersahabat membuat Anda mampu ‘bertengkar’ tapi tetap dalam suasana bersahabat.

Pasangan dari suatu hubungan yang dewasa dan sehat tentu akan mengerti secara intuitif maksud dari ‘bertengkar secara bersahabat’. Ada orang yang cukup beruntung dibesarkan dalam keluarga dimana orangtuanya memperlihatkan ketaksepahaman tanpa marah-marah.

Meski sejumlah perbedaan yang dialami cukup membuat frustrasi dan sedih. Ada pula pasangan yang punya aturan, baik tertulis maupun tidak, yang ternyata mirip dengan konsep bertengkar secara bersahabat.

Nah, di bawah ini ada 10 tips atau aturan yang dapat memastikan, konflik akan memperkuat perkawinan Anda dan bukan membahayakan.
1. Merangkul Konflik
Tak perlu takut, konflik merupakan hal yang wajar, bahkan sehat. Perbedaan di antara Anda berdua memperlihatkan adanya hal-hal yang dapat dipelajari dari masing-masing pasangan. Seringkali konflik justru membuat hubungan jadi lebih dewasa.

2. Bicarakan Pokok Masalah
Bertengkar secara bersahabat berarti hanya membicarakan permasalahan yang dihadapi. Tidak saling mengejek, menghina, atau merendahkan. Cukup bicarakan masalah yang dihadapi tanpa menambahnya dengan masalah baru yang bisa saling menyakit hati masing-masing.

3. Mendengar & Sikap Menghargai
Jika seseorang merasa yakin akan sesuatu, sebaiknya dengarkan dengan sungguh-sungguh saat mereka mengutarakannya. Mendengar dengan sikap menghargai berarti mengenali perasaan pasangan, baik secara lisan maupun memusatkan perhatian pada pernyataannya.
Artinya, tidak menginterupsinya dengan mengatakan, ia tak boleh merasa demikian. Dengan kata lain, Anda menyimpan pendapat sampai pasangan tahu, Anda mengerti apa yang dirasakannya mengenai topik yang disampaikannya, meski belum tentu Anda mengerti betul.

4. Bicara Dengan Lembut
Semakin keras suara Anda, semakin tak didengar apa yang Anda katakan. Bahkan, meski pasangan berteriak, Anda tak perlu membalasnya dengan berteriak. Berbicara dengan suara pelan namun jelas akan membuat pasangan mulai memusatkan perhatian pada masalah, bukan bereaksi pada suara yang keras.

5. Rasa Ingin Tahu, Bukan Membela Diri

Membela diri dengan mengeluarkan suara keras dan memprotes sambil mengatakan Anda yang benar atau dengan melempar piring, justru akan memperhebat pertengkaran. Sebaliknya tanyakan informasi yang lebih rinci dan minta contoh.
Biasanya, ada beberapa alasan mengapa seseorang sampai mengeluh. Jika Anda memperlihatkan keingintahuan mengenai keluhannya, Anda telah memberinya ruang untuk mengerti.
6. Bertanya Spesifik
Pernyataan menyeluruh yang menyertakan kata-kata ‘selalu’ dan ‘tidak pernah’ hampir tak akan memberikan jalan keluar. Jika pasangan mengeluh, tanyakan kepadanya mulai dari masalah secara menyeluruh ke arah yang spesifik, agar Anda dapat mengerti secara persis apa yang dibicarakannya.
Sebaliknya, jika Anda yang mengeluh, lakukan yang terbaik dengan memberikan contoh kepada pasangan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi.
7. Mencari Titik Temu
Selalu ada bagian konflik yang dapat diterima dan disetujui. Dengan menemukan titik temu, akan menjadi permulaan yang penting dalam mencari solusi bersama.
8. Mencari Pilihan
Pertengkaran berakhir dengan dimulainya kerja sama. Tanyakan secara sopan saran-saran atau alternatif yang dapat mengundang kerja sama. Pertimbangan yang hati-hati atas beberapa pilihan akan memperlihatkan rasa hormat. Dengan menawarkan alternatif akan memperlihatkan, Anda juga bersedia mencoba hal baru.
9. Memberi Kelonggaran
Kelonggaran kecil dapat mengubah situasi. Jika Anda memberi sedikit kelonggaran, Anda telah memberi ruang bagi pasangan untuk juga memberikan kelonggaran kepada Anda.
Kelonggaran kecil juga akan memperbesar kompromi. Kompromi tak selalu berarti Anda berdua saling setuju 50-50, kadang-kadang 60-40, atau bahkan 80-20. Permasalahannya bukan pada angka, tapi pada cara mencari solusi yang cocok bagi Anda berdua.
10. Menciptakan Damai
Ada pasangan yang sudah puluhan tahun menikah dan membuat aturan ‘tak pernah pergi tidur dengan menyimpan kemarahan’. Artinya, dari awal perkawinan mereka sama-sama sepakat, hubungan lebih penting daripada memenangkan perselisihan.
Berarti, terkadang harus tidur sampai larut malam demi menemukan kompromi. Terkadang pula artinya, salah satu pasangan memutuskan, permasalahannya tak terlalu penting dan tak sampai harus memperlambat jam tidur mereka.
Bila kedua pasangan menghargai pernikahannya, salah satunya pasti akan mengalah. Jika salah satu mengalah, pasangannya akan menghargainya dan menawarkan damai. Pasangan seperti ini akan bisa mempertahankan perkawinannya sampai kakek nenek, karena saling pengertian dan punya toleransi yang luar biasa.

Pos ini dipublikasikan di Tips dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s