MEMAHAMI KESALAHPAHAMAN MENJAWAB PERTANYAAN “SAUDARA SEPUPU” KITA: SEBUAH PEDOMAN KILAT Oleh Yahya Mansyur, M. Th.

  1. Kesalahpahaman: Ajaran Trinitas adalah ajaran yang berAllahkan tiga

Demikian pendapatnya saudara sepupu kita dikarenakan:

    1. Pesan dari Al-Qur’an yang hendak meluruskan ajaran yang konon adalah ajaran kaum Nasrani, antara lain:

“Katakan: Allah itu Esa. . . Tiada beranak dan tiada diperanakkan. Dan tiada seorangpun yang serupa dengan Dia.” (Al Ikhlas [112] 1-4). Mempertahankan paham Tauhid!

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah ialah yang ketiga dari tiga.” (Al Maidah [5] 73). Melawan Syirik.

“Bagaimana Tuhan sampai mempunyai anak, sedangkan Dia tidak mempuyai isteri.” (Al Maidah [5] 116). Menggambarkan ajaran Trinitas.

    1. Uraian kaum Nasrani sendiri yang kadang-kadang kacau, antara lain rumus yang berbunyi: a) Allah Bapa; b) Allah Anak; c) Allah Roh Kudus. Kalau rumus seperti itu didengar oleh saudara sepupu kita maka terbawalah mereka kepada kesimpulan ajaran Trinitas adalah syirik hukumannya!

Jawaban: Pertama, silahkan menyetujui ayat-ayat Al-Qur’an di atas tadi. Katakan saja, barangsiapa yang pegang pada ajaran seperti itu adalah musyrik (penganut ajaran syirik). Sebagai uraian tambahan tegaskan:

    1. Ajaran Trinitas tidak seperti yang digambarkan di dalam Al Qur’an (!).
    2. Ajaran Trinitas tidak bertentangan dengan Tauhid karena Alkitab menegaskan Allah itu ESA (ajaran nabi Musa-Ul. 6:4; ajaran Isa Al-Masih-Mk. 12:29-30; ajaran Paulus [1 Tim. 1:17; 2:5]).
    3. Rentetan Bapa, Anak (Firman) dan Roh Kudus (Mat. 28:19) bukanlah menurut angka (tiga Allah) melainkan menurut tiga cara beradanya Allah yang Esa. Rumus yang benar untuk Tauhid Kristen adalah sebagai berikut:
      • Allah sang pencipta, Al khalik, berkuasa untuk menciptakan, yang disebut Bapa (Kej. 1:1; Mat. 11:25);
      • Allah yang sama dan bukan yang lain ialah Allah yang berkuasa untuk berFirman, atau Isa Al Masih (Kej. 1:3; Yoh. 1:14);
      • Allah yang sama dan bukan yang lain berkuasa memberi taufik dan hidayat yang disebut Rohul Kudus (Kej. 1:2; Yoh. 14:16; 16:7-13).
  1. Kesalahpahaman: Nabi Isa bukan Allah dan bukan Anak Allah

Pengertian di atas tadi berdasarkan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an seperti: Al Maidah (5) 72: “Kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah itu ialah Almasih Anak Maryam.”; Al Ikhlas (112) 3 bahwa Allah: “Tiada beranak dan tiada di peranakkan.” Karenanya, saudara sepupu kita berpikir bahwa ajaran kaum Nasrani meninggikan nabi Isa dan menjadikannya Tuhan, menjijikan Nama Allah karena mengajarkan bahwa Allah itu beranak (maksudnya, Allah + Maryam = Isa Almasih (!). Bndg QS 5:116).

Jawaban:

    1. Pertama, sadarilah bahwa surat Al Maidah 72 tadi salah paham tentang ajaran Injil. Kaum Nasrani tidak percaya bahwa kemanusiaan Isa (tubuh dan jiwanya) ialah Allah! Sebagai pengganti, kaum Nasrani percaya bahwa Roh Allah yang tidak kelihatan dan Firman Allah yang kekal bersatu dengan manusia Almasih yang kelihatan. Hal itu dijelaskan di dalam Injil seperti berikut: “(Isa) menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud” Roma 1:3
      “(Isa) menurut Roh kekudusan dinyatakan . . . Tuhan” Roma 1:4
      “Firman itu adalah Allah” dan “Firman itu menjadi manusia (Isa)” Yoh. 1:1,14

Pada garis besarnya ajaran Injil tadi cocok dengan ajaran Al-Qur’an Surat Annisaa (4) 171: “Sesungguhnya Almasih Isa Anak Maryam (keturunan Daud) Rasul Allah dan perkataan Allah (Firman-Nya) disampaikan kepada Maryam dan ia Ruh dari Allah.”

Jadi adalah salah kalau mengatakan bahwa umat Masehi meninggikan seorang nabi (Isa) dan kemudian “menjadikannya” Tuhan. Salah juga untuk mengatakan kaum Nasrani adalah kafir karena menyamakan kemanusiaan Isa dengan Allah. Malahan sebaliknya Tuhan sendiri turun dan bersatu dengan manusia Isa Al-Masih.

    1. Kedua, mengenai soal gelar “Anak Allah” harus disadari bahwa kaum Masehi menyetujui Surat Al Ikhlas tadi dengan mengakui bahwa Allah tiada beranak dan tiada diperanakkan secara biologis. Bagi kaum Nasrani ajaran seperti itu jijik sekali. Kalau kaum Nasrani memakai gelar “Anak Allah” diartikan secara kiasan atau gelar kehormatan yang menunjukkan kepada hubungan Al-Masih dengan Allah (contoh “anak Bandung”, “anak kunci”, “anak kalimat”).

Catatan: Seandainya seorang dari saudara sepupu kita ragu tentang ajaran penjelmaan (Allah bersatu dengan Almasih) sebagai contoh, adakan perbandingan dengan Al-Qur’an. Contohnya: sama seperti agama Kristen percaya bahwa Firman Allah yang kekal, yang tidak diciptakan, turun, kemudian menjadi Isa Al Masih, deinikian juga agama Islam percaya bahwa Firman Allah yang kekal, yang tidak diciptakan, turun, kemudian menjadi kitab Al-Qur’an. Di dalam Islam Firman Allah turun menjadi Kitab; di dalam ajaran Masehi Firman Allah turun menjadi manusia (Isa). Sebagai langkah selanjutnya, tanyakan saja: “Menurut anda, apakah Al-Qur’an Firman Allah yang kekal?” Jawabannya pasti “ya,” tentu. Selanjutnya tanyakan, “tetapi bukankah Al-Qur’an terdiri dari kertas, cetakan huruf, dsb.? Ketika Al-Qur’an dikaji bukankah suara makhluk yang membunyikan ayat-ayat dari Firman kekal itu?” Jawabannya pasti, “ya, memang begitu.” Kalau begitu saudara sepupu percaya bahwa Firman kekal bersatu dengan sosok yang tidak kekal.

  1. Kesalahpahaman: Isa tidak mati pada kayu salib untuk melunasi dosa manusia.

Demikian pendapat saudara sepupu kita karena menurut mereka penyaliban Isa:

    1. Tidak pernah terjadi: Surat An Nissaa (4) 157 berbunyi: “Dan sebenarnya mereka tidak membunuh Isa dan tidak menyalibnya. . . tetapi hanya penglihatan mereka saja. . . (158) Tetapi! Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. . .”
    2. Tidak perlu terjadi: Bagi saudara sepupu kita Isa tidak perlu mati. Untuk apa ia harus mati? Menurut saudara sepupu, soal dosa adalah pertanggungjawaban manusia sendiri di hadapan Allah dan bukan urusan pihak ketiga, yaitu Isa.
    3. Tidak boleh terjadi: Bagi Islam menyerahkan seorang nabi yang benar kepada gerombolan orang jahat (yaitu kaum Yahudi yang hendak menyalibkan Isa) tidak pantas dan tidak adil. Sama seperti Allah melindungi Nabi Muhammad sehingga ia berhijrah ke Madina, Ia melindungi Nabi Isa sehingga ia “berhijrah” ke sorga.

Jawaban:

    1. Sekalipun bunyinya An Nissaa 157, ayat 159 berkata: “Dan di antara orang-orang keturunan Kitab itu ada yang percaya kepada ‘Isa sebelum matinya.” Apakah artinya, “sebelum matinya” kalau Isa tidak mati pada kayu salib? Lagipula ada tiga ayat di dalam Al- Qur’an yang mengatakan Isa mati (diwafatkan) Ali ‘Imran (3) 55; Al Maidah (5) 117,’ Maryam (19) 15, 33. Tanyakan saja kepada saudara sepupu anda, kapan dan bagaimanakah Al Masih diwafatkan? Jangan lupa untuk menunjukkan bahwa di antara para penafsir Islam sendiri terdapat silang pendapat tentang wafatnya Nabi Isa.
    2. Mengenai soal “tidak perlu” terjadi penyaliban, tunjukkan ajaran Islam sendiri yang mengakui dahsyatnya, besarnya, luasnya dan dalamnya hal dosa itu.
      • An-Nahl (QS 16) 61 mengajarkan, kalau semua orang dihukum setimpal dosanya, maka niscaya tidak dapat luput satupun manusia dari neraka (bndg. Maz. 14:1-3; Rom. 3:23).
      • Al A’Raaf (QS 7) 16-18. Iblis mengatakan, ia akan menyelewengkan dan menyesatkan sebagian terbesar dari umat manusia.
      • Hadis Al Bukhari (Terj. Ing. jilid ke-6 hlm 54; 60, 54, 71), mengatakan bahwa setiap bayi yang lahir dijamah oleh Iblis. Sesaat dijarnah, semua bayi menangis ketika lahirnya. Demikian halnya untuk semua bayi, kecuali Isa dan Maryam.

Kalau demikian dahsyatnya dosa, apakah usaha dan kekuatan manusia cukup untuk luput dari kuasa dosa atas dirinya serta kuasa dan tipu daya Iblis?

    1. Mengenai “tidak boleh” disalib karena tidak menghormati sang nabi, tegaskan bahwa, ketika Almasih disalib, dan kemudian ia bangkit, hal itu justru mendatangkan hormat dan kemuliaan kepada-Nya (Fil. 2:8-10), serta memalukan Iblis dan merusak kuasanya (Kol. 2:14-15; I Yoh. 3:8).
  1. Kesalahpahaman: Alkitab dipalsukan dan tidak asli.

Masa kini saudara sepupu kita berkeyakinan bahwa Alkitab tidak berwibawa dan tidak asli. Apa yang positif yang dicatat di dalam Al-Qur’an tentang Taurat dan Injil ditujukan kepada kitab-kitab yang sudah hilang. Yang di dalam tangan umat Nasrani sekarang bukanlah Taurat dan Injil yang disanjung di dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dipakai oleh saudara sepupu kita untuk “membuktikan” pendapat ini antara lain termasuk: QS 2:63-121; 3:72; 4:44-48; 7:161-171. Tidak terdapat pula pesan bahwa umat Masehi yang merubah atau memutarbalikkan kitab sucinya. Sebaliknya terlihat banyak ayat yang positif mengenai Taurat dan Zabur yang ada di tangan nabi Muhammad pada bagian pertama abad ke-7:

    1. Kesaksian Al-Qur’an tentang Taurat, Zabur dan Injil:
  1. Allah menurunkannya: QS: 3:3; 4:163; 5:43; 17:55
  2. Disebut sebagai “Kitab Allah” dan di dalamnya berisi pimpinan kebenaran dan cahaya yang terang: QS 5:44,46
  3. Ditegaskan: “Tak seorangpun yang dapat menukar perkataan Allah” (Al An ‘Aam [6] 34; bndg Yunus [10] 64). Menurut konteks An ‘Aam (6) 34 tadi, yang tidak dapat ditukarkan ialah wahyu yang diturunkan kepada rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad.
  4. Kaum Yahudi dan Kristen diperintah untuk membaca dan patuh kepadanya (QS 5:68); Kaum Islam juga diperintahkan demikian, secara langsung/tidak langsung: QS 2:136; 3:84; 4:136; 29:46; 42:15
  5. Kalau Al Qur’an dibaca dengan seksama, maka tidak terdapat di dalamnya satu ayatpun yang mengatakan bahwa TEKS Alkitab telah diubah, hilang atau dipalsukan.
  6. Setelah membaca semua ayat itu di dalam Al-Qur’an, Thomas P. Hughes, dalam karangannya, Dictionary of Islam (terbitan th. 1885, lihat hlm 440-448), berkesimpulan:

Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an mengenai kitab-kitab suci orang Yahudi dan Kristen adalah amat banyak, dan di dalam setiap ayat Muhammad membicarakan tentang kitab-kitab ini dengan hormat tinggi. Ia mengakui keilhamannya, mengakui adanya kitab-kitab ini di masanya sendiri, dan memakainya untuk mendukung utusannya sendiri.

    1. Kesaksian Alkitab sendiri:
      Menurut Paulus di dalam II Timotius 3:16, semua “tulisan” yaitu penulisan Alkitab, diilhamkan (bh. asli theopneustos = dinafaskan oleh Allah) dan ber-manfaat untuk pengajaran dan pengoreksi. Almasih juga berjanji kepada murid-murid-Nya bahwa Sang Penghibur (Roh Kudus) akan mengingatkan mereka tentang segala sesuatu yang Ia ajarkan kepada mereka (Yoh. 14:26). Menurut rasul Petrus di dalam II Petrus 3:15-16, tulisan Paulus se-derajat dengan “tulisan-tulisan lain” di dalam Alkitab (Taurat, Zabur dan Injil).
  1. Aneka Ragam Kesalahpahaman:
  1. “Injil” Barnabas adalah kebenaran yang sayang, ditolak oleh kaum Nasrani.

“Injil” Barnabas ini yang terdiri dari 222 pasal (sama panjangnya dengan ke-4 Injil), ditemukan pada abad ke-17 kemudian pertama kali diterbitkan oleh dua sarjana Kristen pada tahun 1907. “Injil” Barnabas ini seolah-olah ditulis oleh Barnabas pada abad pertama dan merupakan suatu alternatif kepada hidup Al Masih sebagaimana diriwayatkan di dalam Injil kanonik (resini). Bagi saudara sepupu kita sumber ini sangat laris karena terdapat di dalamnya banyak hal yang sesuai dengan ajaran Islam:

      • Dalam pasal ke-14 dari “Injil” Barnabas itu, Barnabas mengganti Tomas sebagai salah satu dari 12 murid Al Masih (bndg. Mat 10:2-5).
      • Lagi pula, Barnabas mendapat kedudukan khusus, setaraf dengan Petrus, Yohanes dan Yakobus (ps. 100).
      • Isa juga memberitahu Barnabas bagaimana Ia akan luput dari penyaliban (ps. 112), bahwa Ia bukan anak Allah dan bahwa Yudas akan disalibkan sebagai pengganti-Nya (ps. 117).

Sebagai jawaban singkat, beritahukan saudara sepupu kita bahwa sebenarnya Injil Barnabas tidak sesuai, baik dengan Injil yang benar maupun Al Qur’an sendiri. Misal-nya, di dalam Injil Barnabas diajarkan adanya sembilan langit, sedangkan di dalam Surat Al Baqarah ada hanya tujuh langit. Di dalam Injil Barnabas Isa menyuruh Barnabas untuk mengarang Injil (ps. 221), tetapi menurut Al-Qur’an, Injil diturunkan kepada Isa! Jadi sebaiknya “Injil” Barnabas itu ditolak baik oleh umat Masehi maupun oleh umat Islam sebagai sumber penipuan yang palsu.

  1. Alkitab menubuatkan Kedatangan Muhammad.

Ulangan l8:15,18 (ayat 15) “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku (Musa) akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN.” (ayat 18) “Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Ku-perintahkan. . .”. Menurut saudara sepupu kita, seorang nabi ini yang “sama seperti aku” (Musa) tidak lain dari Nabi Muhammad.

Jawaban: Bagi saudara sepupu kita perkataan, “saudara-saudaramu” sangat penting karena diartikan bani Ismael (Ismael adalah saudara Ishak). Jadi mereka berkesim-pulan nabi yang muncul dari saudara-saudara Israel tidak lain dari Nabi Muhammad, keturunan Ismael. Namun tafsiran mereka ini tidak dapat tahan uji karena tidak memperhatikan kata-kata, “dari tengah-tengahmu“. Yang penting untuk diperhatikan ialah identitas dari yang disapa “mu”. Sebenarnya fasal 18 ini ditujukan kepada imam-imam orang dari Lewi, dan merekalah yang disapa “mu” di atas tadi (bndg. 18:1). Jadi “saudara-saudaramu” yaitu saudara-saudara kaum Lewi adalah kaum di “tengah-tengah” orang Lewi itu. Siapakah kaumnya, saudara orang Lewi yang berada di tengah-tengah mereka? Jawabanya ialah 12 suku bani Israel dan bukan saudara-saudara mereka di Arabia, yaitu keturunan Ismael.

Kalau begitu, siapakah Nabi ini yang sama seperti Nabi Musa? Menurut Petrus, se-orang murid Isa Al Masih, orang ini tidak lain dari Almasih sendiri (Baca Kisah Para Rasul 3:17-26).

Yohanes 14:16; 26. 15:26 (14:26) “Tetapi Penghibur (bh. asli parakletos), yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku. Dialah yang akan meng-ajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kaum akan semua yang telah Ku-katakan kepadamu.”

Ayat ini menjadi favorit dari banyak dai karena kemiripannya kata parakletos (Peng-hibur) dengan kata periklutos (yang terpuji) yang secara kasar agak bisa disamakan dengan kata ahmad atau mahmud di dalam bahasa Arab (bandingkan dengan Al-Qur’an surat 61:6). Kebetulan, kata ahmad atau mahmud ini ialah kata sanjung untuk menghormati Nabi Muhammad. Karenanya, saudara sepupu kita hendak membaca “periklutos” dan bukan “parakletos” di dalam ketiga ayat di atas tadi. Ya, boleh saja tetapi perhatikan hal-hal berikut:

      • di dalam naskah-naskah dan gulungan-gulangan kitab Perjanjian Baru, tidak terdapat satu teks pun yang memakai kata “periklutos.” Semua memakai “parakletos” yang artinya: penghibur, penasihat atau juru syafaat.
      • kemiripan kata tidak menjamin arti yang dikehendaki. Contohnya: kata “sandung” mirip dengan “sanjung”, kata “selimut” mirip dengan “selamat”, kata “doa” mirip dengan kata “dosa” dan banyak sekali lidah orang asing terpeleset di sini, mengatakan, “mari kita berdosa” (!) Dua kata ini parakletos dan periklutos sangat mirip bunyi kata, tetapi arti kata jauh berbeda.
      • lagi pula, jika Muhammadlah yang dimaksudkan sebagai “parakletos” yang akan datang, bagaimana kita mengerti perkataan Isa di dalam Yohanes 14:26 dan 15:26 di mana Penghibur atau parakletos disamakan dengan Roh Kudus dan Roh Kebenaran?
  1. Pesan Isa Al Masih hanya untuk Bani Israel semata-mata.

Di dalam Surat Ali Imran 49 dicatat bahwa: “Dan dia (Isa) menjadi Rasul untuk anak–anak Israel.” Kemudian saudara sepupu kita mendukung ajaran ini dengan mengutip dari Matius 15:24: “Jawab Yesus: Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

Rupanya maksud saudara sepupu kita ialah untuk menegaskan bahwa utusan Nabi Muhammad ialah bersifat universal sedangkan utusan Nabi Isa serta berita Injil terbatas hanya untuk Bani Israel. Tetapi pengertian itu keliru sebagaimana akan dilihat di dalam ayat-ayat berikut:

      • Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: Akulah terang dunia. (Yoh. 8:12)
      • Kamu (murid-murid Isa) adalah terang dunia. . . (Mat. 5:14)
      • Kamu (murid-murid Isa) adalah garam dunia. . . (Mat. 5:13)
      • Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba–domba itu harus Ku-tuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku. . . (Yoh. 10:16).
      • Karena itu pergilah, jadikanlah murid semua bangsa murid-Ku. . . (Mat. 28:19).

Jadi bagaimana ayat-ayat di atas tadi dapat dicocokkan dengan Matius 15:24? Kita harus mengertinya sama seperti Petrus, murid Isa, mengertinya seperti yang dicatat di dalam Kisah Para Rasul 3:26. Kepada orang-orang Yahudi Petrus menguraikan:

“Bagi kamulah (kaum Yahudi) pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu. . .” (Kis. 3:26).

Jadi, pertama-tama Isa hanya datang kepada bani Israel. Ia datang kepada mereka agar mereka taat kepada rancangan Allah dan menjadi berkat kepada semua bangsa (Bndg. Yes. 49:6). Lalu, setelah Almasih ditolak oleh bani Israil, ia memerintah murid-muridnya untuk melaksanakan amanat Allah itu yang tidak dihiraukan oleh bani Israel itu. Kesimpulan: Almasih diutus untuk menjadi berkat ke semua bangsa!

Lagi pula, bagaimana ayat-ayat berikut dari Al Qur’an sendiri dapat dimengerti:

“Hai Isa! Sesungguhnya Aku akan mematikanmu dan meninggikan derajatmu kepada-Ku dan membersihkanmu dari (tuduhan) orang-orang yang tidak ber-iman; menjadikan pengikut-pengikutmu lebih tinggi dari orang-orang yang tidak beriman sampai hari kiamat . . .” (Ali Imran 55, lihat juga Maryam 21).

Kalau pesan Isa hanya untuk bani Israel bagaimana pengikut-pengikutnya dijadikan begitu tinggi sampai hari kiamat itu?

Lagi pula di dalam Surat Maryam (19) ayat 21 kelahiran Nabi Isa digambarkan sebagai peristiwa yang hebat:

“. . . dan peristiwa itu (kelahiran Isa) hendak Kami (Allah) jadikan keterangan bagi manusia dan rahmat dari Kami, dan suatu perkara yang telah diputuskan.”

Kalau peristiwa itu dimaksudkan untuk menjadi “keterangan bagi manusia” (semua kaum dan bangsa) bagaimana Almasih hanya diutus ke bani Israel saja?

Pos ini dipublikasikan di Belajar dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s