UMUR ALAM SEMESTA

Berapakah umur alam semesta? Berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti astronomi, biologi, geofisika, geologi, paleontologi semua menunjukkan bahwa umur alam semesta sudah milyaran tahun. Hal ini sudah diterima secara umum dan tidak diperdebatkan lagi. Berikut ini beberapa bukti astronomis tentang umur alam semesta.

1.Teori yang bisa menjelaskan pemancaran energi oleh matahari (dan bintang lainnya) adalah rangkaian reaksi nuklir yang menyatukan empat inti hidrogen menjadi satu inti helium. Reaksi ini membebaskan energi yang besar. Reaksi proton-proton yang mengawali rangkaian ini mempunyai cross section (laju reaksi) yang sangat kecil. Beruntunglah kita karena reaksi ini sangat lambat. Kalau tidak, semua bintang akan segera meledak begitu reaksi itu terjadi, dan kita tidak pernah ada! Reaksi ini bisa berlangsung stabil selama milyaran tahun (untuk matahari sekitar 10 milyar tahun). Kita tahu massa matahari (dari gerak orbit planet). Kita juga tahu komposisi kimia matahari (secara spektroskopi). Maka kita dapat membuat simulasi dengan komputer bagaimana matahari berkembang (ber-evolusi). Untuk mencapai tahap keadaan matahari sekarang diperlukan waktu lima milyar tahun. Jadi umur matahari sekarang sekitar 5 milyar tahun. Umur matahari akan mencapai 10 milyar tahun. Nantinya matahari akan menjadi bintang raksasa merah (seperti bintang Antares di rasi Scorpio) dan akhirnya menjadi bintang katai putih. Apakah ada bukti yang mendukungnya? Ya, ada! Para ahli geologi dan paleontologi menemukan umur geologis yang juga berorde milyaran tahun. Adanya fosil-fosil yang berumur milyaran tahun juga menunjukkan bahwa di bumi milyaran tahun yang lalu sudah ada kehidupan. Berarti milyaran tahun yang lalu matahari sudah ada dan keadaannya tak jauh berbeda dari sekarang (kehidupan, bagaimana pun sederhananya memerlukan matahari yang keadaannya tidak berbeda dengan matahari sekarang).

2. Ditemukannya galaksi-galaksi pada jarak milyaran tahun cahaya menunjukkan bahwa umur alam semesta ini sudah milyaran tahun (cahaya dari galaksi-galaksi itu memerlukan waktu milyaran tahun untuk mencapai bumi). Sebuah galaksi yang berjarak 60 juta tahun cahaya (Foto: Hubble Space Telescope)

3. Hubble menunjukkan bahwa galaksi-galaksi saling menjauhi (lihat bawah). Dengan menelusur balik dari kecepatan menjauh ini dapat ditentukan umur alam semesta sekitar 15 milyar tahun. Alam semesta bermula dengan suatu ledakan besar (big bang). Bukti terjadinya big bang ini ditemukan pada tahun 1965 oleh Penzias dan Wilson yang menemukan radiasi latar belakang gelombang mikro yang bertemperatur 3 derajat Kelvin (minus 270 derajat Celcius). Radiasi latar belakang ini merupakan sisa radiasi yang berasal dari big bang. Penzias dan Wilson memperoleh hadiah Nobel Fisika tahun 1978 untuk penemuannya ini. Penemuan ini dikokohkan oleh pengamatan oleh satelit COBE milik NASA pada tahun 1992. Setelah terjadinya big bang alam semesta mengembang. Pengembangan alam semesta ini pertama kali diperlihatkan oleh Edwin Hubble pada tahun 1929 dengan mengamati pergeseran garis-garis spektrum pada galaksi-galaksi yang jauh. Hubble mendapatkan bahwa galaksi-galaksi bergerak saling menjauhi, makin jauh jaraknya, makin besar kecepatannya.
Teori big bang menyatakan bahwa pada saat terbentuknya, alam semesta didominasi oleh radiasi atau energi. Pada fase pengembangan berikutnya terbentuklah mula-mula quark, kemudian proton dan neutron, lalu helium dan deuterium, atom, dan selanjutnya: materi antar bintang, bintang, galaksi dan seterusnya. Unsur berat dibentuk di pusat bintang, dan oleh ledakan supernova di cerai beraikan dalam alam semesta. Dari big bang hingga proses terbentuknya bintang-bintang dan galaksi terentang waktu ratusan ribu sampai milyaran tahun. Penciptaan menurut Kitab Kejadian
a) Urutan penciptaan Perhatikan Kejadian 1:3, “Berfirmanlah Allah: ‘Jadilah terang.’ Lalu terang itu jadi.” Ini adalah hari pertama penciptaan. Lalu perhatikan Kejadian 1:14, “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam.” Ini pada hari keempat. Ini sungguh aneh. Orang-orang pada waktu itu – seperti kita juga sekarang – tahu bahwa terang di bumi berasal dari matahari, bulan dan bintang-bintang. Mengapa ditulis bahwa terang diciptakan lebih dahulu daripada sumbernya? Tetapi coba kita bandingkan dengan teori big bang. Pada mulanya, ketika ledakan besar itu terjadi, alam semesta didominasi oleh radiasi. Terang atau cahaya adalah suatu bentuk radiasi. Jadi pada mulanya memang teranglah yang terjadi. Alangkah cocoknya dengan Kejadian 1! Matahari dan bintang-bintang baru terbentuk lama, lama sekali, yaitu ratusan ribu sampai milyaran tahun setelah big bang. Tetapi, seperti akan didiskusikan di bawah, kita juga harus hati-hati dalam menerima kecocokan itu.
b) Waktu penciptaan Kitab kejadian mengisahkan bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam enam hari, sedang ilmu pengetahuan menyimpulkan bahwa alam semesta telah mengalami proses selama milyaran tahun. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa satu hari di Kejadian 1 adalah 24 jam kita sekarang. Berikut ini beberapa argumen alkitabiah untuk menafsirkan bahwa hari-hari penciptaan dalam Kejadian 1 sebagai waktu yang panjang dan bukan hanya sekedar 144 jam.
1. Perspektif waktu Tuhan jauh berbeda dengan manusia (Mazmur 90:4; 2 Petrus 3:8).
2. Kata-kata Ibrani yom, ‘ereb, dan boqer (hari, petang dan pagi) mempunyai penggunaan yang luwes dan bukan hanya bagian dari 24 jam. Juga jumlah hari tidak selalu merujuk kaku pada selang waktu 24 jam. [lihat no.5]
3. Hari ke-tujuh berlangsung mulai Perjanjian Lama, Baru dan seterusnya ke masa depan (Ibrani 4:1-11).
4. Waktu antara penciptaan Adam dan Hawa dalam Kejadian 2 tampak memerlukan selang yang jauh melebihi 24 jam. Misalnya Kejadian 2:20 menyebut bahwa manusia (Adam) memberi nama pada semua hewan. Ahli biologi Linnaeus memerlukan waktu puluhan tahun untuk mengklasifikasi semua jenis species yang diketahui di Eropa pada abad ke-18.
5. Dalam Kejadian 2:4 kata untuk “hari,” yom, merujuk pada seluruh waktu penciptaan. Ini untuk memperlihatkan keluwesan penggunaannya (lebih jelas bila dibaca pada Alkitab versi KJV: “These are the generations of the heavens and of the earth when they were created, in the day that the LORD God made the earth and the heavens,”)
Kesimpulan Kesimpulan pertama yang bisa diambil, Kejadian 1 tidak seharusnya ditafsirkan secara literal. G.L. Archer dalam bukunya “Encyclopedia of Bible Difficulties” (Zondervan, 1982) mengatakan: “To be sure, if we were to understand Genesis 1 in a completely literal fashion – which some suppose to be the only proper principle of interpretation if the Bible is truly inerrant and completely turstworthy – then there would be no possibility of reconciliation between modern scientific theory and the Genesis account. But true and proper belief in the inerrancy of Scripture involves neither a literal nor a figurative rule of interpretattion.” (Jelasnya, bila kita harus memahami Kejadian 1 secara literal sepenuhnya – yang oleh sementara orang dianggap sebagai satu-satunya prinsip penafsiran yang tepat bahwa Alkitab benar-benar tidak salah dan bisa dipercaya sepenuhnya – maka tidak mungkin ada rekonsiliasi antara ilmu pengetahuan modern dengan kisah di Kejadian. Tetapi keyakinan yang benar dan tepat tentang kebenaran Alkitab tidak harus dengan menafsirkannya secara literal maupun figuratif.)
Lalu bagaimana kita harus memahami Kejadian 1? Dalam diskusi dengan beberapa ahli dan pengamat teologi dalam suatu milis, penulis berkesimpulan:
1. Isunya bukan soal mencocok-cocokkan dua paradigma (Alkitab dan ilmu pengetahuan), namun menerima kedua paradigma pada horisonnya masing-masing. Perlakuan terhadap teks Alkitab dan perlakuan terhadap teks yang dihasilkan ilmu pengetahuan tidak perlu dan tidak boleh sama. Kosmologi Kejadian 1 hanya jembatan menuju refleksi kita mengenai kosmogoni. Bahwa ada satu pencipta yang mencipta semesta dalam keteraturan (harmoni). Bagaimana detailnya, lantas menjadi tugas ilmu pengetahuan. Bisa saja teori big bang, bisa saja yang lain. Memperlakukan Alkitab dengan sikap ilmiah, dengan cara mencari detail jelas keliru. Mereka yang melakukan ini butuh kepastian terlebih dahulu bahwa Alkitab harus inerrant (tidak salah) dalam hal ilmu pengetahuan juga. Namun kalau kita menolak inerrancy (ketidak salahan) dan menerima infallibity (ketidak penyesatan) Alkitab, artinya, menerima pesan utama teks Kejadian 1, maka tidak ada masalah sama sekali dengan bagaimana data, detail dan fakta diungkapkan oleh ilmu pengetahuan.
2. Kejadian 1 adalah narasi mengenai perubahan dari ketidakteraturan menuju keteraturan, dari chaos menuju cosmos, menuju keseimbangan; dimana yang disoroti di sana bukanlah berlangsungnya proses itu sendiri melainkan peran Tuhan dalam kerangka ruang dan waktu, yang pada gilirannya melahirkan konsep “Tuhan yang hadir dalam sejarah”. Matematika dalam Alkitab Oleh: Winardi S. Keliling lingkaran Pada waktu membangun Bait Suci dan istananya, Salomo meminta bantuan Hiram dari Tirus, seorang ahli tembaga. Dikisahkan: 1 Raja-raja 7:23–Kemudian dibuatnyalah “laut” tuangan yang sepuluh hasta dari tepi ke tepi, bundar keliling, lima hasta tingginya, dan yang dapat dililit berkeliling oleh tali yang tiga puluh hasta panjangnya. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan “laut” tuangan tetapi tampaknya tempat penyimpanan air untuk upacara keagamaan. Karena disebut bentuknya “bundar keliling” maka jelas bentuknya seperti tong (silinder) yang diameternya 10 hasta dan kelilingnya 30 hasta. Bila suatu lingkaran diameternya D maka kelilingnya L dapat dihitung dengan rumus: L = D dikalikan pi Pi adalah bilangan 3,142. Karena D = 10 hasta maka L = 31,42 hasta. Angka ini hanya meleset sedikit dari 30 hasta yang disebut dalam ayat di atas. Angka yang berupa puluhan bulat di ayat itu (10 dan 30) jelas menunjukkan bahwa angka itu hanyalah angka yang kasar (kira-kira) saja. Kecocokan itu menunjukkan kebenaran matematis ayat tersebut. Salah waktu dalam kronologi raja-raja? Alkitab tidak dimaksudkan sebagai buku sejarah. Karena itu Alkitab tidak menceritakan secara rinci waktu kejadian peristiwa yang dikisahkan. Ini menimbulkan banyak kesulitan bagi para ahli untuk mengidentifikasikan peristiwa di Alkitab dengan sejarah. Namun ada sesuatu hal yang unik di kitab 1 dan 2 Raja-raja yaitu lama pemerintahan setiap raja diberikan. Jadi bila waktu pemerintahan seorang raja dapat diidentifikasi, maka waktu pemerintahan raja-raja lain dapat diidentifikasi pula. Sebagai contoh, dari catatan pada lempengan tanah liat orang Asyur diketahui terjadinya pertempuran besar di Qargar pada tahun 853 SM. Pertempuran itu melibatkan Raja Syalmeser II melawan koalisi dua belas anggota, salah satunya adalah Raja Ahab dari Israel. Bila tahun 853 SM itu dianggap menjelang akhir pemerintahan Ahab maka waktu pemerintahan Ahab adalah 874-853 SM (22 tahun bila tahun pertama ikut dihitung). Dari situ dapat ditelusur bahwa raja besar Israel yaitu Salomo memerintah pada sekitar 971-931 SM. Setelah kematian Salomo kerajaan Israel pecah menjadi kerajaan Israel di utara yang diperintah oleh Yerobeam I dan kerajaan Yehuda di selatan yang diperintah oleh Rehabeam (anak Salomo). Jadi Yerobeam dan Rehabeam mulai memerintah pada waktu bersamaan. Setelah itu mereka digantikan oleh raja-raja berikutnya. Alkitab mengisahkan bahwa salah satu raja Israel yaituYoram dan salah satu raja Yehuda yaitu Ahazia dibunuh oleh Yehu pada waktu yang hampir bersamaan (2 Raja-raja 9:24-27). Jadi selang waktu dari Yerobeam ke Yoram di Israel harus sama dengan selang waktu dari Rehabeam ke Ahazia di Yehuda. Tetapi apakah begitu? Kita lihat tabel masa pemerintahan raja-raja ini. ISRAEL Yerobeam I 22 tahun Nadab 2 tahun Baesa 24 tahun Ela 2 tahun Zimri 7 hari Omri 12 tahun Ahab 22 tahun Ahazia 2 tahun Yoram 12 tahun ————————— Total 98 tahun (Zimri tidak diperhitungkan) YEHUDA Rehabeam 17 tahun Abiam 3 tahun Asa 41 tahun Yosafat 25 tahun Yoram 8 tahun Ahazia 1 tahun ————————— Total 95 tahun Jadi kedua selang waktu itu berbeda tiga tahun! Perbedaan ini merisaukan beberapa pemerhati Alkitab (lihat buku “Arkeologi dan Sejarah Alkitab” tulisan J.P Free dan H.F.Vos, Yayasan Penerbit Gandum Emas, Malang, hal. 226, 1997). Sepintas, tampaknya perbedaan itu bisa dijelaskan oleh adanya pembulatan angka, misalnya “1 tahun 8 bulan” dan “2 tahun 3 bulan” sama-sama disebut “2 tahun”. Karena kesalahan akibat pembulatan (rounding error) ini akan berakumulasi setelah pemerintahan beberapa raja, maka perbedaan tiga tahun itu bisa dianggap wajar. Namun sangat boleh jadi penulis Alkitab menggunakan jumlah tahun dalam pemerintahan seorang raja untuk menentukan lama pemerintahannya. Jadi, misalnya (saya ambil contoh kontemporer), Raja A memerintah mulai November 2001 hingga Februari 2011. Antara 2001 dan 2011 ada 11 tahun (tahun pertama dihitung). Dalam kasus ini disebut Raja A memerintah 11 tahun, padahal lama pemerintahan sebenarnya adalah 9 tahun 4 bulan. Bila cara perhitungan ini yang digunakan memang jumlah selang tahun pada kedua tabel diatas harus sama. E.R. Thiele, dalam disertasi doktornya (1944) mencoba menerangkan perbedaan itu dengan menunjukkan adanya perbedaan penanggalan yang berlaku di Israel dan Yehuda.

Pos ini dipublikasikan di Belajar dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s