FORGIVE THEN FORGET

“Pokoknya kalo si Tono mau minta maaf sama gue, baru gue mau ke persekutuan lagi. Lagian kan nggak lucu, gue datang ke persekutuan, tapi gue musuhan sama Tono. Itu kan sama aja munafik. Gue nggak mau munafik dah…” begitu deh alasannya si Bobby. Guys, there’s so many time kita sering bersikap kayak si Bobby ini. Ngakunya sih nggak pingin muna, tapi kenyataannya kita cuma alasan doang. Yang sebenarnya nih, kita cuma bebas en nggak mau dibilang munafik. Semuanya itu nggak lain karena kita mencoba mempertahankan gengsi. That’s all?

There is no settlement
Ternyata nggak cuma itu aja. The truth is… nggak ada pemberesan di dalam diri kita. Kenyataan yang sebenarnya, kita terlalu ‘menikmati’ perasaan jengkel, marah, kesal, sebal, dendam, dan kebencian yang tertanam di dalam hati kita. Nggak sadar kan kalau ternyata ketika kita ‘menikmati’ perasaan-perasaan yang buruk itu, iblis tengah manfaatin kita untuk jadi pengikutnya. Kalau kita nggak mau ada pemberesan en terus-terusan menyimpan perasaan-perasaan buruk itu, ya… gitu deh akibatnya, kebencian dan dendam itu bakalan makin membusuk en bikin kita jadi pribadi yang dingin en keras hati.
Kalau kita nggak mau segera ngadain pemberesan, sebenarnya yang rugi juga kita sendiri. Udah sakit hati, stress, mau ngapa-ngapain serba nggak enak, dan yang lebih parah lagi hubungan kita dengan Tuhan pun jadi terganggu. Pokoknya nggak ada untungnya sama sekali deh menyimpan benci en dendam. Mungkin untuk sesaat aja kita bisa ngerasain yang namanya ‘kebanggaan’ bisa ‘menang’ dari orang yang musuhan sama kita. Tapi berikutnya, yang ada cuma perasaan nggak tenang en kita jadi orang yang angkuh, sok, plus muna, en sama sekali nggak ada damai sejahtera dalam hidup kita.

Ask for God’s mercy
Wake up guys… udah nggak zamannya lagi yang namanya menyimpan dendam. Kalau kita udah ngaku anak Allah en terima Yesus dalam hidup kita, mustinya kita nggak lagi hobby menyimpan rasa benci en dendam. Untuk apa sih berlama-lama bertahan dalam situasi yang justru menyulitkan diri kita sendiri. Segera lakukan pemberesan.
First thing that we must do, berdoa minta ampun sama Tuhan karena udah mengeraskan hati en nggak mau taat sama firTu, benci en dendam sama sesama kita. Second, kalau Tuhan bilang kita musti mengampuni orang yang bersalah pada kita, although dia udah bolak balik nyakitin kita (Lukas 17:3-4), ya udah kita musti mengampuninya. Meski mungkin sikapnya masih nggak baik juga sama kita, tapi kita kudu sabar en tetap mengampuninya (Kolose 3:13). Nggak cuma memaafkan, tapi kita juga musti melupakan kesalahan-kesalahannya supaya jangan sampai kita mengungkit-ungkitnya lagi.
Nggak pakai acara gengsi-gengsian lagi deh. Sometimes kita suka gengsi en berusaha jaim, tapi itu nggak ada gunanya karena semuanya itu cuma akan menghambat proses pemulihan dan pembaharuan hidup kita. Jangan pernah memberi kesempatan pada iblis untuk memanfaatkan kekesalan hati kita. Biarkan Allah yang bertahta, menguasai hati dan pikiran kita, supaya kita nggak gampang dikuasai oleh iblis.?‚

Pos ini dipublikasikan di Cerita dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s